Ada Apa di Banda Aceh?
Jawabannya pastinya banyak
Semua sudah pasti tau kalau Nangroe Aceh Darussalam adalah provinsi khusus di Indonesia yang menerapkan syariat Islam di seluruh wilayah provinsinya. So, buat yang non islam, kalau mau berkunjung ke Aceh harus cek dan ricek dulu apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan di Aceh.
Akhir tahun lalu, saya dapat kesempatan ke Banda Aceh nemenin mahasiswa untuk festival budaya di salah satu universitas swasta di sana. Jadi, saya sempat memperhatikan dan ngalamin sendiri keunikan tersendiri dari Aceh khususnya Banda Aceh (walau nggak sempat banyak foto).
1. Pantai
Yup, sebagai kota yang lokasinya di ujung Pulau Sumatera, boleh dibilang Banda Aceh mendapat keistimewaan untuk menikmati laut biru kapan aja. Beda banget sama Medan yang harus menempuh perjalanan yang cukup panjang kalau mau liat laut biru di daerah Sibolga. Dibandingin lagi sama Medan, tempat yang paling dekat untuk bisa liat laut itu ya di Belawan, kalau nggak di Pantai Cermin. Tapi pastinya dua tempat itu nggak bisa dibandingin sama laut di Banda.
Selain di Banda, dalam perjalanan dari Medan, saya juga dapat kesempatan untuk mampir bentar di pantai di daerah Pidie, but don't ask me the name of the beach, it was just a random beach we visited last time. Ada liat pantai, bagus, yaudah, mampir. Dan itu asli, kayak private beach, nggak ada orang yang main-main di pantai.
Lalu ada satu pengalaman unik yang kami alami waktu di pantai di Pidie itu. Kami kena usir Satpol PP setempat. Waktu itu, kami sebenarnya sudah antisipasi pake kerudung setiap kali keluar dari mobil. But at that time, kan lagi di pantai, kerudungnya terlepas kena angin pantai, so tetiba, datanglah dua orang Satpol PP mendekati kami. Mungkin tau kami bukan local people, awalnya dua orang Satpol PP itu cuma mengingatkan untuk pakai kerudung, tapi, ada satu Satpol PP lain yang tiba-tiba datang lagi, lalu suruh kami untuk pergi dari pantai. Sebelum pergi dari pantai, kami sempat lihat mereka bongkar-bongkar semacam cafe yang nggak jauh dari pantai itu.
So, buat yang mau pergi ke pantai di daerah Aceh, I suggest you to dress properly there, so that you won't experience any similar incident :D
2. Kota yang bersih dan teratur
Sebenarnya bukan mau jelek2in kota sendiri sih, tapi kita tuh lebih cenderung membandingkan sesuatu dengan yang paling dekat atau paling sering kita jumpain. Jadi selama kunjungan ke Banda kemarin, saya mendapati kalau kota Banda Aceh itu bersih dan teratur. Kurang tau juga sih dengan kota-kota lain yang mungkin tidak sebesar Banda Aceh. Tapi lagi2, kalau dibandingin sama Medan yang juga kota besar, Banda dapat nilai plus tentang keteraturan lalu lintas dan kebersihan. Pavements nya juga gede-gede dan bagus, beda sama Medan. Mungkin ini jadi peer besar untuk bukan cuma pemerintah kota Medan tapi juga semua masyarakat Medan, supaya ramah sama pejalan kaki, soalnya kalau dibandingin sama kota-kota besar lainnya, Medan masih tertinggal dalam hal kenyamanan pejalan kaki.
3. Toko tutup pada jam Shalat
Ini dia yang menurut saya hal unik lainnya. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, untuk masalah practice the religion, Aceh itu patuh dan ketat banget. Jadi saya pernah mau beli kue ulang tahun di salah satu toko roti di sana sekitaran jam tujuh malam gitu, dan itu tutup. Lalu buka lagi sekitar jam delapanan kurang. Pernah juga liat kota itu sunyi pas hari Jumat tengah hari. Mungkin ini supaya pekerja atau pemilik tokonya bisa shalat lima waktu kali ya.
Jadi kalau mau cari makan atau beli sesuatu selama kalian di Banda, bisa juga disesuaikan dengan jam buka tutupnya toko itu supaya nggak kena zonk.
4. Jam malam
Jadi di Banda mungkin di kota-kota lainnya di Aceh, diberlakukan juga jam malam. Mungkin maksudnya ada peraturan bahwa di jam sekian tidak boleh ada yang berkeliaran di jalanan. Atau mungkin setelah jam sekian tempat-tempat makan harus sudah tutup. Jadi waktu kunjungan lalu ke Banda, kebetulan kegiatan festivalnya baru selesai jam setengah 12 malam, dan kami kelaparan di tengah malam. Walau di pusat kota, yang kami bisa lihat cuma toko yang tutup dan beberapa warung kopi yang buka, and i saw no woman in the street atau di tempat makan itu.
Udah coba jalan beberapa menit juga gak nemu tempat makan yang masih buka. Beda juga nih sama Medan yang gampang kalau mau cari tempat makan tengah malam, karena biasanya masih ada tukang jual mie aceh atau nasi goreng angkringan di pinggir jalan.
5. No bioskop
Iseng saya pernah tanya ke local people apa di Banda ada bioskop, dan jawabannya NO. Bioskop dilarang di kota itu. Mall juga begitu, hanya ada departemen store yang juga ada di Medan, yaitu Suzuya (sorry bukan mau promosi, but just want to share what I got from the city). So, jangan harap bisa nemu shopping mall kayak Center Point, Sun Plaza, atau apa gitu di sana.
6. Museum gratis
Kecil kemungkinan donk kalau kalian nggak tau tragedi tsunami 13 tahun lalu. Dan semenjak kejadian itu, banyak hal yang baru di Aceh, termasuk museum tsunami dan PLTD Apung yang alih fungsi jadi museum. Waktu di Banda kemarin, karena ikut city tour saya dan rombongan free of entrance fee sih, tapi setelah googling, ternyata harga tiketnya itu murah banget, cuma Rp2000 untuk anak-anak, Rp3000 untuk dewasa, dan Rp10000 untuk international tourist. Beda lagi dengan PLTD apung, waktu lalu, seingat saya masuknya nggak bayar alias gratis. Hanya saja, di pintu masuk yang sekaligus jadi pintu keluar, ada kotak amal untuk pembangunan mesjid, jadi seikhlas kita mau kasih berapa aja.
Untuk kedua museum ini, kita mungkin udah tau kali ya, kalau keduanya dijadikan museum peringatan kejadian tsunami tahun 2004 lalu. Jadi di dalam, kita bisa tau lebih detail gimana kengerian waktu tragedi itu terjadi. Jujur, saya pribadi nggak kuat untuk lama-lama di sana dan dengar ceritanya, karena it brings back the memory of the victims' fears, setiap masuk ke satu ruangan, langsung sedih, mengeluarkan air matalah.
Tapi ternyata, ada satu tempat yang instagramable. Lokasinya di lantai dua kalau nggak salah, di samping lokasi pemutaran video.
Saya juga dikasih tau sama mahasiswa lokal yang sama dengan saya merasa kelelahan dengar informasi dari guidenya. Too much information kalau saya bilang. So, buat yang mau foto ala-ala boleh lah cari tempat ini di museum tsunami.
Baiklah, sekian dulu tulisan dari saya. Semoga bermanfaat ^_^
Semua sudah pasti tau kalau Nangroe Aceh Darussalam adalah provinsi khusus di Indonesia yang menerapkan syariat Islam di seluruh wilayah provinsinya. So, buat yang non islam, kalau mau berkunjung ke Aceh harus cek dan ricek dulu apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan di Aceh.
Akhir tahun lalu, saya dapat kesempatan ke Banda Aceh nemenin mahasiswa untuk festival budaya di salah satu universitas swasta di sana. Jadi, saya sempat memperhatikan dan ngalamin sendiri keunikan tersendiri dari Aceh khususnya Banda Aceh (walau nggak sempat banyak foto).
1. Pantai
Yup, sebagai kota yang lokasinya di ujung Pulau Sumatera, boleh dibilang Banda Aceh mendapat keistimewaan untuk menikmati laut biru kapan aja. Beda banget sama Medan yang harus menempuh perjalanan yang cukup panjang kalau mau liat laut biru di daerah Sibolga. Dibandingin lagi sama Medan, tempat yang paling dekat untuk bisa liat laut itu ya di Belawan, kalau nggak di Pantai Cermin. Tapi pastinya dua tempat itu nggak bisa dibandingin sama laut di Banda.
Selain di Banda, dalam perjalanan dari Medan, saya juga dapat kesempatan untuk mampir bentar di pantai di daerah Pidie, but don't ask me the name of the beach, it was just a random beach we visited last time. Ada liat pantai, bagus, yaudah, mampir. Dan itu asli, kayak private beach, nggak ada orang yang main-main di pantai.
Lalu ada satu pengalaman unik yang kami alami waktu di pantai di Pidie itu. Kami kena usir Satpol PP setempat. Waktu itu, kami sebenarnya sudah antisipasi pake kerudung setiap kali keluar dari mobil. But at that time, kan lagi di pantai, kerudungnya terlepas kena angin pantai, so tetiba, datanglah dua orang Satpol PP mendekati kami. Mungkin tau kami bukan local people, awalnya dua orang Satpol PP itu cuma mengingatkan untuk pakai kerudung, tapi, ada satu Satpol PP lain yang tiba-tiba datang lagi, lalu suruh kami untuk pergi dari pantai. Sebelum pergi dari pantai, kami sempat lihat mereka bongkar-bongkar semacam cafe yang nggak jauh dari pantai itu.
So, buat yang mau pergi ke pantai di daerah Aceh, I suggest you to dress properly there, so that you won't experience any similar incident :D
2. Kota yang bersih dan teratur
Sebenarnya bukan mau jelek2in kota sendiri sih, tapi kita tuh lebih cenderung membandingkan sesuatu dengan yang paling dekat atau paling sering kita jumpain. Jadi selama kunjungan ke Banda kemarin, saya mendapati kalau kota Banda Aceh itu bersih dan teratur. Kurang tau juga sih dengan kota-kota lain yang mungkin tidak sebesar Banda Aceh. Tapi lagi2, kalau dibandingin sama Medan yang juga kota besar, Banda dapat nilai plus tentang keteraturan lalu lintas dan kebersihan. Pavements nya juga gede-gede dan bagus, beda sama Medan. Mungkin ini jadi peer besar untuk bukan cuma pemerintah kota Medan tapi juga semua masyarakat Medan, supaya ramah sama pejalan kaki, soalnya kalau dibandingin sama kota-kota besar lainnya, Medan masih tertinggal dalam hal kenyamanan pejalan kaki.
3. Toko tutup pada jam Shalat
Ini dia yang menurut saya hal unik lainnya. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, untuk masalah practice the religion, Aceh itu patuh dan ketat banget. Jadi saya pernah mau beli kue ulang tahun di salah satu toko roti di sana sekitaran jam tujuh malam gitu, dan itu tutup. Lalu buka lagi sekitar jam delapanan kurang. Pernah juga liat kota itu sunyi pas hari Jumat tengah hari. Mungkin ini supaya pekerja atau pemilik tokonya bisa shalat lima waktu kali ya.
Jadi kalau mau cari makan atau beli sesuatu selama kalian di Banda, bisa juga disesuaikan dengan jam buka tutupnya toko itu supaya nggak kena zonk.
4. Jam malam
Jadi di Banda mungkin di kota-kota lainnya di Aceh, diberlakukan juga jam malam. Mungkin maksudnya ada peraturan bahwa di jam sekian tidak boleh ada yang berkeliaran di jalanan. Atau mungkin setelah jam sekian tempat-tempat makan harus sudah tutup. Jadi waktu kunjungan lalu ke Banda, kebetulan kegiatan festivalnya baru selesai jam setengah 12 malam, dan kami kelaparan di tengah malam. Walau di pusat kota, yang kami bisa lihat cuma toko yang tutup dan beberapa warung kopi yang buka, and i saw no woman in the street atau di tempat makan itu.
Udah coba jalan beberapa menit juga gak nemu tempat makan yang masih buka. Beda juga nih sama Medan yang gampang kalau mau cari tempat makan tengah malam, karena biasanya masih ada tukang jual mie aceh atau nasi goreng angkringan di pinggir jalan.
5. No bioskop
Iseng saya pernah tanya ke local people apa di Banda ada bioskop, dan jawabannya NO. Bioskop dilarang di kota itu. Mall juga begitu, hanya ada departemen store yang juga ada di Medan, yaitu Suzuya (sorry bukan mau promosi, but just want to share what I got from the city). So, jangan harap bisa nemu shopping mall kayak Center Point, Sun Plaza, atau apa gitu di sana.
6. Museum gratis
Kecil kemungkinan donk kalau kalian nggak tau tragedi tsunami 13 tahun lalu. Dan semenjak kejadian itu, banyak hal yang baru di Aceh, termasuk museum tsunami dan PLTD Apung yang alih fungsi jadi museum. Waktu di Banda kemarin, karena ikut city tour saya dan rombongan free of entrance fee sih, tapi setelah googling, ternyata harga tiketnya itu murah banget, cuma Rp2000 untuk anak-anak, Rp3000 untuk dewasa, dan Rp10000 untuk international tourist. Beda lagi dengan PLTD apung, waktu lalu, seingat saya masuknya nggak bayar alias gratis. Hanya saja, di pintu masuk yang sekaligus jadi pintu keluar, ada kotak amal untuk pembangunan mesjid, jadi seikhlas kita mau kasih berapa aja.
Untuk kedua museum ini, kita mungkin udah tau kali ya, kalau keduanya dijadikan museum peringatan kejadian tsunami tahun 2004 lalu. Jadi di dalam, kita bisa tau lebih detail gimana kengerian waktu tragedi itu terjadi. Jujur, saya pribadi nggak kuat untuk lama-lama di sana dan dengar ceritanya, karena it brings back the memory of the victims' fears, setiap masuk ke satu ruangan, langsung sedih, mengeluarkan air matalah.
Tapi ternyata, ada satu tempat yang instagramable. Lokasinya di lantai dua kalau nggak salah, di samping lokasi pemutaran video.
Saya juga dikasih tau sama mahasiswa lokal yang sama dengan saya merasa kelelahan dengar informasi dari guidenya. Too much information kalau saya bilang. So, buat yang mau foto ala-ala boleh lah cari tempat ini di museum tsunami.
Baiklah, sekian dulu tulisan dari saya. Semoga bermanfaat ^_^



.jpeg)

Komentar
Posting Komentar